KIAT MERINGANKAN BEBAN TAKDIR

Kiat Meringankan Beban Takdir

Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary
“Pedihnya bencana menjadi ringan, manakala anda mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala adalah yang memberi cobaan bagimu. Dzat Yang memnghadapkan takdir-takdir padamu adalah Dia yang mengembalikan padamu agar ada kebaikan ikhtiar darimu.”.

Allah Ta’ala Maha Indah sifatNya, Mulia tindakanNya, sama sekali tidak bertujuan mencederai hambaNya, kecuali demi kemashlahatan si hamba itu sendiri, untuk meraih anugerah dan keutamaan dariNya. Bukan untuk menyiksa mereka.

Allah Ta’ala telah berfirman kepada NabiNya, “Bersabarlah pada hukum Tuhanmu, karena sesungguhnya kamu ada dalam penglihatan Kami.” (Ath-Thuur 48), sebagaimana Allah Ta’ala mengambalikan padamu apa yang engkau suka, maka bersabarlah terhadap apa yang ditakdirkan padamu.

Mayoritas orang merasa pedih dengan takdir yang menderanya, semata karena belum faham, bahwa semua itu adalah caraNya menguji mereka. Ujian itu dari Allah jua.  Ujian tentu demi peningkatan derajat, dan sekaligus kesiapan ikhtiar yang lebih baik dari sebelumnya, sehingga anugerah dan keutamaan dari Allah Ta’ala diterima dengan jiwa yang benar.

Inilah perlunya ridlo, sabar dan pasrah jiwa kepadaNya dalam situai dan kondisi apa pun.
Imam Al-Junayd al-Baghdady pernah mengisahkan:
“Pada suatu malam aku tidur di dekat Sary as-Saqathy ra (paman dan sekaligus gurunya), lalu sary membangunkan aku.

“Hai Junaid, aku sepertinya sedang berada di hadapan Allah, dan Allah berfirman padaku, “Hai Sary, aku telah menciptakan makhluk dan semua makhluk itu mengaku telah mencintaiKu. Lantas Aku ciptakan dunia, tiba-tiba 90% dari semua itu lari dariKu dan tersisa 10% saja, Kemudian aku ciptakan syurga, ternyata (yang 10%) itu pun lari dariKu (menuju syurga), hingga tersisa 1% saja. Lantas pada yang tersisa itu Aku berikan sedikit saja cobaan, rupanya mereka pun lari dariKu, tinggal 0,99%. Aku katakan kepada yang tersisa yang masih bersamaKu itu:
“Dunia bukan kalian kehendaki. Syurga juga bukan yang kalian inginkan. Neraka juga bukan membuatmu lari. Lalu apa mau kalian ini?”

“Engkau Maha Tahu apa yang kami mau…” kata mereka.
“Bila Aku memberikan cobaan sejumlah nafas kalian yang tidak bisa dipikul oleh bukit-bukit dan lembah jurang, apakah kalian bersabar?” tanyaKu.

“Bila Engkau adalah Yang Memberikan cobaan, lakukanlah sekehendakMu….” Kata mereka yang tersisa.
“Sungguh mereka kitu adalah benar-benar hamba-hambaKu …”
Karena itu Ibnu Thaillah as-Sakandary melanjutkan:

“Siapa yang menyangka lepasnya KeMaha LembutanNya dari takdirNya (yang keras), sesungguhnya karena sangkaan itu muncul dari piciknya pandangan.”

Seringkali ketika cobaan tiba, orang mengeluhkan, “Wah, Allah tidak sayang lagi padaku…Allah tidak lagi berlemah lembut kepadaku…mungkin karena dosaku, sehingga siksaNya menimpaku, hingga aku kehilangan Maha LembutNya…dsb…”
Kalimat dan keluhan demikian karena melihat pada kerasnya dan wujudnya takdir. Padahal pedih dan keras itu hanya bungkus atas Kelembutan Ilahi, demi Cinta dan KasihNya pada sang hamba. Sebab, tanpa cekaman keras itu sang hamba tidak sadar, tidak bangkit kepadaNya dan tidak tergugah untuk terus bersamaNya.

Di sinilah perlunya Husnudzon kepadaNya, karena justru dengan Husnudzon kepada Allah itu segela derita terbebaskan, segala kegembiraan tumpah padanya, dan segala kemerdekaan jiwa tumbuh berkembang bagai ranum bunga.

Secara psikhologis, bagi yang mengalami cobaan terasa berat untuk memahami kelembutan Ilahi dibalik cobaan itu. Tidak jarang yang justru protes kepada Allah, protes pada kenyataan-kenyataan, protes pada diri sendiri. Inilah yang membuat mereka sulit untuk menghayati makna cobaan.

Namun jika mereka bisa membuka pintu sabar dan gerbang ridlo, pemahaman akan KeMaha Lembutan Ilahi dibalik semua itu, pasti muncul, bahkan akan tumbuh rasa syukur dibalik semua itu.

—(

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Tassawuf

Keutamaan Dzikir Ketika Keluar Rumah

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ: “بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ” قَالَ: « يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ. فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِىَ وَكُفِىَ وَوُقِىَ

“Jika seseorang keluar dari rumahnya lalu membaca (zikir): Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi, walaa haula wala quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada-Nya, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya), maka malaikat akan berkata kepadanya: “(sungguh) kamu telah diberi petunjuk (oleh Allah Ta’ala), dicukupkan (dalam segala keperluanmu) dan dijaga (dari semua keburukan)”, sehingga setan-setanpun tidak bisa mendekatinya, dan setan yang lain berkata kepada temannya: Bagaimana (mungkin) kamu bisa (mencelakakan) seorang yang telah diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga (oleh Allah Ta’ala)?”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan orang yang mengucapkan zikir ini ketika keluar rumah, dan bahwa ini merupakan sebab dia diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga oleh Allah Ta’ala[2].

Beberapa faidah penting yang dapat kita ambil dari hadits ini:

– Keutamaan yang disebutkan dalam hadits ini akan diberikan kepada orang yang mengucapkan zikir ini dengan benar-benar merealisasikan konsekwensinya, yaitu berserah diri dan bersandar sepenuhnya kepada Allah Ta’ala[3].

– Syaitan tidak memiliki kemampuan untuk mencelakakan orang-orang yang benar-benar beriman dan bersandar sepenuhnya kepada Allah Ta’ala[4], sebagaimana firman-Nya:

{إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ * إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ}

Sesungguhnya syaitan itu tidak memiliki kekuasaan (untuk mencelakakan) orang-orang yang beriman dan bertawakkal (berserah diri) kepada Rabbnya. Sesungguhnya kekuasaan syaitan hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah” (QS an-Nahl: 99-100).

– Bertawakal (berserah diri dan bersandar sepenuhnya) kepada Allah Ta’ala merupakan sebab utama untuk mendapatkan petunjuk dan perlindungan Allah dalam semua urusan manusia. Allah Ta’ala berfirman,

{وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ}

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya” (QS ath-Thalaaq: 3).

Artinya: Barangsiapa yang berserah diri dan bersandar sepenuhnya kepada Allah Ta’ala dalam semua urusan agama dan dunianya, yaitu dengan bersandar kepada-Nya dalam mengusahakan kebaikan bagi dirinya dan menolak keburukan dari dirinya, serta yakin dengan kemudahan yang akan diberikan-Nya, maka Allah Ta’ala akan memudahkan semua urusannya tersebut[5].

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 30 Rabi’ul awal 1432 H

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

Dari artikel Keutamaan Dzikir Ketika Keluar Rumah — Muslim.Or.Id by null

1 Komentar

Filed under Tassawuf

Pengembangan Pola Pikir Aparatur

Pola  pikir merupakan sebuah sistem pembelajaran yang dimulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa dan dibentuk melalui didikan yang berasal dari orang tua dan lingkungan. Apa yang diterima sebagai sebuah kebenaran dari faktor orang tua maupun lingkungan akan membentuk kerangka pola pikir seseorang. Jika seseorang tidak berusaha mengembangkan pola pikirnya maka  orang tersebut akan memiliki pola pikir yang sempit.

Orang biasa pun dapat menggunakan kapasitas pikirannya secara lebih sehingga paling tidak mendekati kapasitas orang yang jenius yaitu bila sudah dapat belajar mengenai kekuatan pikirannya atau mind power. Sehingga bagaimana seseorang dapat mempergunakan kekuatan pikirannya secara efektif.

Kemampuan seseorang untuk mengenali potensi-potensi pola pikirnya yang berpusat dalam otak akan dapat membantunya dalam memperoleh peningkatan kemampuan dalam memecahkan permasalahan sehari-hari dan menjalankan pekerjaannya secara maksimal.

Potensi yang luar biasa tersebut, bila diasah dan dikembangkan secara maksimal maka kekuatan pikirnya dapat saling menguat. Hal tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain dengan mengubah perasaan yang tumbuh di masa lalu menjadi lebih realitas aplikasinya di masa sekarang sehingga hal-hal yang tadinya melekat negatif dapat diubah secara positif.

sumber:http://www.widyaiswarakemendagri.org

Tinggalkan komentar

Filed under Manajemen

MENGAMANKAN JALUR EKONOMI KABUPATEN SOLOK SELATAN DENGAN SISTEM KORIDOR

 Oleh : Ir. SAID ALKHUDRI. MM

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan

Dan Penanaman Modal Daerah Kab. Solok Selatan

Prasarana jalan dan jembatan sebagai urat nadi ekonomi suatu wilayah sudah diakui sejak dulu, disamping potensi SDA, Investasi dan potensi SDM yang tesedia. Prasarana jalan dapat menyambungkan Lokasi Produksi (Tambang, Pertanian/perkebunan, dan jasa) dengan Pasar Produksi itu sendiri.

Salah satu jalur utama ekonomi kabupaten Solok Selatan adalah ruas Jalan Muaro Labuh-Lubuk Malako sepanjang 51 KM dengan status jalan provinsi, dalam RTRW Kabupaten Solok Selatan dijadikan sebagai Jalan Arteri Primer. Jalur utama ini memilki bawaan ekonomi yang sangat besar, intensitas kendaraan yang tinggi dengan arus orang dan barang  yang padat, baik local ,maupun antar provinsi (Jambi dan Sumatera Barat).

Suatu hal yang membuat kita gamang adalah bahwa jalur Jalan Muaro Labuh-Lubuk Malako ini membelah Bukit Barisan, sebagian besar menyusuri arus sungai-sungai dan celah bukit-bukit yang terjal, tentunya sangat rawan dengan longsor atau jalan terban ke sungai. Puluhan titik longsor terdapat di sepanjang ruas jalan ini, terutama di kawasan Bukit Manggis sepanjang 10 KM dengan posisi arah  ke Lubuk Malako di sisi kiri jalan adalah Sungai Batang Sangir dan di sisi kanan jalan adalah bukit yang sangat terjal.

Setiap saat di semua titik tersebut longsor bisa terjadi, dan jika longsor itu terjadi maka jalur ekonomi Muaro Labuh-PadangAro dan Padang Aro-Lubuk Malako (Abai dan Sei Kunyit) akan lumpuh. Sulit dibayangkan bagaimana kesulitan ekonomi yang akan dialami rakyat di kawasan-kawasan tersebut. Kondisi sebagaimana tersebut diatas sebetulnya tidak harus terjadi dan dapat dihindari , jika mulai saat ini para pihak (Eksekutif dan Legislatif) di Kabupaten Solok Selatan mulai menerapkan Sistem Koridor dan pengaman di sepanjang Ruas Jalan Muaro Labuh-Lubuk Malako tersebut.

Pengamanan jalur dengan Sistem Koridor dapat dilaksanakan dengan membangun ruas-ruas jalan alternatif di sepanjang Jalur Muaro Labuh-Lubuk Malako, justru ruas-ruas tersebut selama ini sebagian sudah tersedia tetapi belum tersambung satu sama lainya, misalnya ruas Jalan Padang Aro-Padang Limau Sundai-Tanjung Durian, sebagai koridor pengaman kawasan Bukit Manggis pada Jalur  Padang Aro-Lubuk Malako. Ruas jalan Golden Arm-Pekonina sebagai koridor pengaman Jalur Padang Aro-Muro Labuh (untuk kawasan Liki). Ruas Golden Arm –Pekonina dapat disambung lagi ke arah Muaro labuh sehingga ruas jalan  alternatif tersebut tersambung sampai ke Muaro Labuh, hal ini sebaiknya juga dilanjutkan ke batas Kabupaten Solok dan Pemkab Solok melanjutkan juga sampai ke Simpang Lubuk lasih.

Pembukaan ruas-ruas jalan alternatif sebagai koridor pengaman jalur jalan utama Muaro Labuh-Lubuk Malako, ruas-ruas alternatif tersebut juga berdampak kepada perkembangan wilayah yang dilewatinya, dengan bawaan ekonomi lokal yang tinggi sehingga simpul-simpul pertumbuhan ekonomi Kabupaten Solok Selatan tidak hanya di jalur utama, tapi menyebar ke dalam kawasan-kawasan yang di lewati jalan alternatif.

Sudah seharusnya pembangunan ruas-ruas jalan alternatif di sepanjang jalur utama Muaro Labuh-Lubuk Malako menjadi prioritas dalam alokasi dana APBD Kabupaten Solok Selatan T.A 2013, karena ruas-ruas ini mempunyai nilai publik yang tinggi dimata masyarakat dan telah tertuang dalam RPJMD Kabupaten Solok Selatan 2011-2015 dan Draft RTRW Kabupaten Solok Selatan 2012-2031.

Semoga Kabupaten Solok Selatan

Dapat Segera keluar dari status sebagai

Kabupaten tertinggal di Sumatera Barat, Amin.

Padang  Aro, 17 April 2012

Ir. SAID ALKHUDRI. MM

1 Komentar

Filed under Kebijakan Publik

BALANCE SCORECARD, UNTUK PEMERINTAH DAERAH YANG BERORIENTASI PELANGGAN

Oleh : Ir. Said Alkhudri, MM

(Peserta Diklat Transforming Leader In Indonesia, Angkatan I) 

Gambar

Hari kamis tanggal 27 September 2011, di salah satu ruang kelas Havard Kennedi School, Prof. Linda Bilmes memandu diskusi peserta diklat Transforming Leader in Indonesia yang membahas tema Balance Scorecard dan Aplikasinya.

Kehebatan Balance Scorecard sebagai Tool of Managemant yang diciptakan Robert S. Kaplan adalah pada keempat sudut pandang yang dilakukannya atas koorporat

Sudut pandang pertama adalah bagaimana “kita” (Coorporate) dalam perspektif pelanggan “How Customers See Us ?.”

Bagaimana pelanggan melihat kita, jawabannya tentu seberapa jauh kita telah memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan. What Customers needs, and What Customers Satisfaction ?. Kebutuhan dan kepuasan pelanggan dapat terjadi jika organisasi dapat menciptakan dan meningkatkan nilai-nilai pelanggan (Cutomers Value)

Dalam Manajemen Pemerintahan Modern David Osborne dan Ted Gebler dalam bukunya “REINVENTING GOVERNMENT.” mengatakan: “model Pemerintah yang Reinventing adalah pemerintah yang berorientasi pelanggan yaitu memenuhi kebutuhan pelanggan, bukan hanya memenuhi kebutuhan Birokrasi”.

Menurut Gebler “sedikit sekali orang dalam Pemerintahan yang pernah menggunakan kata pelanggan, kebanyakan Organisasi Pemerintah bahkan tidak tahu siapa pelanggan mereka”. Organisasi Pemerintah Daerah, pelanggan adalah warga/masyarakat sendiri dan para investor.

Bagaimana Pemerintah Daerah mampu memenuhi kebutuhan pelanggannya?

Pemerintah Daerah harus mampu menciptakan dan meningkatkan nilai Publik (Public Value) sebagai nilai pelanggan sehingga terciptanya Kepuasan Pelanggan (Customers Satisfaction).

Dalam sudut pandang kedua : Balance Scorecard melihat dari perspektif inovasi pembelajaran adalah : dapatkah kita memperbaiki dan menciptakan nilai  (Can We Continue Improve and Create Value). Pada organisasi Pemerintah Daerah, Nilai Pelanggan identik dengan Nilai Publik (Public Value).

Bagaimana menciptakan dan meningkatkan Public Value, telah dibahas oleh Prof. Jorvit de jong dan Prof. Archon Fung pada sessi lain di Havard Kennedi School dalam materi Strategic Leader. Ukuran yang dapat dipedomani dalam penerapan Public Value adalah : “sejauhmana bennefit sebuah kebijakan terhadap masyarakat/ publik/ pelanggan kita, makin tinggi manfaat/ bennefit yang didapat masyarakat/ pelanggan, maka makin tinggi nilai Publik dari kebijakan tersebut.

How Customers See Us ?

Can We Continue Improve and Create Value ?

Pertanyaan-pertanyaan ini akan  mengarahkan Pemerintah Daerah menjadi Pemerintah yang berorientasi pelanggan (Customerize), yaitu Pemerintah yang berorientasi memenuhi kebutuhan pelanggannya, bukan hanya memenuhi kebutuhan Birokrasi.

Pertanyaan yang menarik adalah seberapa jauh Sumber Daya Publik yang dikuasai Pemerintah Daerah termasuk APBD, kita alokasikan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan/ masyarakat. Jangan-jangan pemerintah Daerah hanya akan sibuk mengurus dirinya sendiri….?

Kita yakin cepat atau lambat, Pemerintah Daerah yang cendrung “sibuk mengurus dirinya sendiri” akan ditinggalkan oleh pelanggannya.

Sessi pembelajaran dari Prof. Linda Bilmes , telah menggiring peserta dalam pemahaman ini. Semoga Alumni Transforming Leader in Indonesia Angkatan I mampu menciptakan create-create menuju Pemerintah Daerah yang berorientasi Pelanggan. Amin

2 Komentar

Filed under Manajemen

ERROR TYPE III DAN GAYA KEPEMIMPINAN LOKAL DI INDONESIA

Oleh : Ir. Said Alkhudri, MM

(Peserta Diklat Transforming Leader In Indonesia, Angkatan I)

 

Pada Sessi pertama hari terakhir dalam pembelajaran di Havard Kennedy School, Prof. Amy C. Edmonson membahas tentang meledaknya pesawat ulang-alik CHALLENGER  diatas samudera Atlantik setelah 2 menit diluncurkan pada tahun 1986.

NASA sebagai Badan Ruang Angkasa Amerika telah mengontrak Perusahaan MORTON THIOKOL untuk rancangan SRB, yaitu salah satu komponen dari Pesawat Ulang-alik Challenger. Rancangan SRB tersebut mengandalkan O-Ring untuk mengikat komponen berukuran besar.

Missi Chalengger telah di tunda beberapa kali, sehingga pemimpin  NASA merasa perusahaan MORTON THIOKOL sebagai penyebab pengunduran-pengunduran ini.

Pada tanggal 27 Januari 1986 terjadilah proses pengambilan keputusan peluncur Challenger yang penuh emosional.

Insinyur BOISJOLY dari THIOKOL telah mengingatkan bahan O-Ring akan meleleh pada suhu 29o F.Jika prediksii cuaca peluncuran oleh Angkatan Udara Amerika benar.

LARRY MULLOY pemimpin NASA dan Stafnya mengklaim Boisjoly terlalu Vokal dan ini bisa mengancam jadwal  peluncuran Challenger yang telah ditetapkan. Beberapa atasan MULLOY yang mendiskreditkan pendapat Boisjoly antara lain:

  1. Dengan kondisi O-Ring saat ini ,beberapa peluncuran  sebelumnya ternyata aman.
  2. Rusia meluncurkan pesawat ulang-alik juga dengan kondisi pengikisan O-Ring yang lebih parah.
  3. Jangan-jangan Boisjoly ditumpangi kepentingan pihak lain yang menginginkan peluncuran Challenger ditunda.

Rapat tanggal 27 Januari 1986 tersebut memutuskan peluncuran Challanger tetap dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang ditetapkan.

Kenyataan pahit yang diterima NASA atas arogansi sendiri terjadi, pesawat ulang-alik Challenger meledak di angkasa setelah 2 menit peluncuran, dan kepingan-kepingan pesawat ditemukan jatuh tersebar di laut atlantik dengan 9 astronot di dalamnya.

Dunia Antariksa terpukul.

Sebuah Error Type III terjadi dalam proses pengambilan keputusan di NASA.

Prof. Amy menyajikan kasus ini dengan bantuan Video rekaman secara apik sekali, telah membuat para peserta pembelajaran terbangun dari praktek arogansi selama ini mungkin sering terjadi dalam Pemerintahan Daerah.

Error Type III adalah istilah kalimat yang maksudnya “melaksanakan keputusan yang salah” yang dimulai dengan  “Identifikasi masalah yang salah”

Disadari atau tidak, para pemimpin Pemerintah di Daerah berpeluang bisa terjebak menangani masalah yang salah, seperti dilakukan LARRY MULLOY dalam peluncuran Shuttle Space Chalenger tahun 1986.

Bermula dalam proses pengambilan keputusan, intervensi pimpinan sering mematahkan dan mementahkan seluruh proses pengambilan keputusan yang sudah berjalan sesuai dengan mekanisme dari bawah.

Sebuah kasus di sebuah Pemerintah Kota; ketika Sekretaris Kota memimpin rencana kegiatan Hari Ulang Tahun Kota yang dihadiri dari SKPD dan Kepala Unit, mekanisme rapat berjalan bagus. Saran, usul dan ide muncul dengan cerdasnya. Kesimpulannya sudah mengena kepada kegiatan-kegiatan ya ng melibatkan banyak rakyat, seperti lomba olahraga ditingkat kelurahan dan sebagainya.

Tetapi ketika dipenghujung rapat Pak Walikota masuk, beliau langsung memberikan arahan kepada peserta, termasuk menentukan kegiatan-kegiatan Hari Ulang Tahun Kota yang harus dilaksanakan SKPD tanpa Reserve. Tetapi arahan Walikota lebih kepada pertandingan Golf antara Eksekutif-Legislatif, upacara dan malam resepsi. Semua keputusan Rapat sejak pagi yang dipimpin Sekretaris Kota menjadi mentah.

Error Type III terjadi dimana-mana dalam penetapan Kebijakan Pembangunan di Daerah. Suatu kebijakan publik akan berkonsekwensi terhadap pengguanaan sumberdaya publik seperti anggaran, personil, peralatan, ruang dan waktu. Bayangkan kalau kebijakan publik yang diputuskan pemimpin Daerah itu suatu keputusan yang salah, berapa alokasi sumberdaya publik yang akan terbuang sia-sia.

Error Type III sering lahir dari arogansi para pemeimpin. Prof. Amy. C. Edmonson telah membangunkan 19 Bupati/ Walikota peserta Angkatan I. Transforming Leader in Indonesia dalam sessi ini, dengan mengangkat kasus peluncuran Shuttle Space Challenger oleh NASA.

Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota adalah ujung tombak dari reformasi di Indonesia. Sehingga Transformasi kepemimpinan ditingkat Kabupaten/Kota dapat merubah wajah Republik Indonesia tercinta ini.

Tinggalkan komentar

Filed under Manajemen